PA(N)DANG PERTAMA KU

Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengarkan kata Padang ??

  • Kuliner
  • Adat istiadat
  • Wisata alam
  • Kampung halaman
  • Pasangan atau keluarga

Bagiku, hal pertama yang terlintas saat mendengarkan kata Padang adalah adaptasi. Tepatnya bulan Agustus 2016, aku mendapatkan kabar bahwa aku diterima di sebuah perusahan kosmetik nasional untuk penempatan kota Padang. Perasaan saat itu campur aduk, bahagia akhirnya bisa mendapatkan perkerjaan yang tidak jauh dari keluarga di kota Duri-Riau, namun juga khawatir karena harus memulai kembali dari awal. Lingkungan kerja, teman-teman, tempat tinggal, semua serba baru, bahkan tutur bahasa dan kebiasaan pun akan berbeda.

Perjalanan dari Duri ke Padang membutuhkan waktu sekitar 11-12 jam menggunakan kendaraan roda empat, jika diperkirakan berangkat pukul 19.00 WIB kemungkinan untuk tiba di Padang sekitar pukul 06.00 WIB. Tidak banyak juga yang nekat dan berani melintasi jalur Riau – Sumatra Barat menggunakan kendaraan roda dua hanya sekedar untuk menghirup udara segar di Jam Gadang Bukittinggi.

Saat itu aku memutuskan untuk berangkat ke Padang menggunakan travel bersama papa, dengan rencana awal mampir dahulu ke rumah adek papa di Pariaman. Perjalanan dari Pariaman ke Kota Padang hanya sekitar 40 menit saja, jadi masih bisa bersilaturahmi sembari istirahat sejenak di sana.

Taplau (Tapi Lauik atau Tepi Laut)

Asing, itu yang aku rasakan saat mobil mulai memasuki kota Padang. Suasana pagi itu cukup panas namun cerah, lalu lintas kendaraan hilir mudik lancar tanpa kemacetan. Bangunan tertata rapi dalam bentuk semi modern traditional, beberapa memiliki atap dengan khas Gonjong Rumah Gadang, yang merupakah simbol dari rumah adat Sumatra Barat.

“Suasana yang jauh berbeda dengan ibukota Jakarta” Pikir ku dalam hati

Papa terlihat asik bercerita sembari nostagia masa kecilnya bersama Pak Etek, begitulah aku memanggil adek papa. Sesekali aku juga ikut bergabung ditengah obrolan mereka.

“Nanti kita lewat Mesjid Raya Sumbar tuh, kemaren pak Jokowi solat Ied di sana dia” Sahut papa seolah menjadi guide dalam perjalanan kali ini.

Jam Gadang – Bukittinggi

Mobil yang aku naiki perlahan menjauhi pusat kota Padang, hanya mengandalkan petunjuk arah dari google maps lumayan membuat perjalanan kala itu terasa lama. Mulai muncul rasa penasaran dalam diri bagaimana wujud kantor tempat ku mencari nafkah nanti, mengapa lokasinya cukup jauh dan rumit untuk ditemukan. Anak-anak zaman sekarang pernah berkata, sebenar-benarnya petunjuk dari google maps, tetap akan lebih benar petunjuk yang diberikan oleh warga sekitar. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kita berhasil menemukan sebuah rumah coklat yang terletak di komplek perumahan Jalan Marapalam Raya, Padang.

Terlihat sepi dan kosong, pikiran ku mulai kemana-mana, apakah benar ini alamat yang dituju atau aku hanya menerima info yang tidak benar dari orang usil. Tidak ada satpam, tidak ada penghuni, aku semakin khawatir. Papa mencoba konfirmasi dengan tetangga sekitar, memastikan kembali alamat dan kantor yang dituju memang sudah benar. Aku pun mencoba menghubungi nomer yang sebelumnya mengabari ku terkait penerimaan dan penempatan kerja di Padang.

Sesuai, alamat yang dituju sudah sesuai. Kondisi kantor saat itu memang kosong karena seluruh personelnya sedang beraktifitas di luar, begitu penjelasan yang ku terima. Aku mulai bimbang dan ragu, jika semua personel beraktifitas di luar setiap hari, berarti kantor pun akan selalu tampak kosong tak bepenghuni. Lalu siapa yang akan standby beraktifitas di kantor ? Jika ada yang standby beraktifitas di kantor, lalu siapa kah yang akan menemani ? Kembali aku berfikir, apakah sebaiknya proses ini tetap dilanjutkan atau mungkin mundur saja kembali ke Duri ?

Mesjid Raya Sumatra Barat- Padang

Kembali ke Duri, ya itulah keputusan yang diterima siang itu. Aku dan papa diberi tau bahwa ternyata kontrak kerja ku baru akan di mulai dua minggu lagi, tidak jadi dihari itu. Setelah pusing dengan segala persiapan dan perlengkapan yang dibawa jauh-jauh dari Duri, kemudian semuanya harus dibawa kembali ke Duri. Perasaan saat itu ga menentu, kesel tidak, lega juga tidak, tapi lebih keperasaan capek. Membayangkan perjalanan darat yang panjang, dengan stuktur jalanan yang berlika liku, di tambah dengan aku yang anaknya mabok-an naik mobil. Ingin saat itu rasanya mengucapkan kata menyerah saja, namun dalam keadaan seperti itu sepertinya tidak baik untuk mengambil keputusan.

Akan dipikirkan kembali, begitulah yang aku sampaikan kepada pihak kantor. Selama dua minggu nanti aku akan mencari saran dan masukan dari orang terdekat serta berserah diri meminta petunjuk yang terbaik dari Nya yang Maha Kuasa.

Haruskah kembali ke Padang atau mencari kesempatan yang lain saja ???

Share This :